Semangat Islam Berkemajuan sebagai pola penerapan

Pemikiran Islam Progresif Muhammadiyah

oleh : Ardhana Mulyono

Aspek dominasi dunia barat mempengaruhi dunia islam, melalui perkembangan ilmu pengetahuan juga teknologi membentuk modernisasi serta globalisasi yang menghadirkan berbagai dampak negatif. Globalisasi menempatkan dunia dan mengintensifkan kesadaran dunia sebagai satu kesatuan, yang di dalamnya melebur kesatuan budaya, ekonomi dan batas-batas lainnya dimana dapat diartikan dunia telah mengalami borderless world. Maka muncul dialektika serta dinamika antara being a true muslim dan being a member of global citizen ship. Problematika inilah yang menjadikan muslim hari ini berusaha untuk mencari jalan keluar yang mulia serta terhormat, salah satunya adalah Muslim Progresif. Beberapa akademisi dan pemerhati sosial keagamaan menghadirkan terma dalam memaknai Islam Progresif seperti. Paradigma Islam oleh Kuntowijoyo, Islam Kosmopolitan oleh Abdurahman Wahid, Islam Nusantara oleh Nahdlatul Ulama’, dan Islam Berkemajuan oleh Muhammadiyah. Islam yang diinterpretasikan yaitu model Islam yang menghadirkan kepedulian dalam kehidupan persoalan manusia.

Pemikiran Islam Progresif

Islam Progresif diartikan sebagai pemaknaan kontekstual, inklusif dan yang lebih terbuka atas ajaran Islam. Pengertian ini bukan Islam itu yang dianggap ‘statis’ namun cara berfikir umat yang beragam yang dapat memberikan kemajuan dalam membangun serta mempertahankan peradaban Islam itu sendiri. Dikarenakan bentuk pemikiran seperti ini yang membentuk umat Islam bangkit melawan segala bentuk kemungkaran dan keterbelakangan. Serta diharapkan dapat membangun serta memberikan rasa keadilan.

Omad Safi dalam “What is Progressive Islam?” menyebutkan bahwa berbagai pemahaman tentang islam yang termasuk dalam rubrik ‘Progresif’ merupakan kelanjutan dari dan keberangkatan radikal dari tradisi Islam Liberal yang berusia seratus lima puluh tahun (Safi,2005). Islam progresif yang disampaikan oleh Imam Wahyudin bahwa kemunculannya karena ditujukan untuk penggugatan paradigma statis, agar melahirkan persoalan yang menindas kelas bawah (Wahyudin,2016). Muhammadiyah memaknai Islam Progresif sebagai Islam Berkemajuan dimana gagasan pemikiran yang ingin menampilkan wajah islam yang sesuai dengan tuntutan kemajuan serta kemodernan masa kini.

Pola gerakan Islam Progresif Muhammadiyah mengambil Pola gerak Islam dengan ‘Semangat Berkemajuan’. Islam Berkemajuan meniscayakan tajdid (pembaharuan) karena dalam menjalankan ajaran agama umat Islam harus menjawab dinamika dan tantangan baru yang belum pernaah muncul pada masa-masa sebelumnya. Tajdid berfungsi memberikan penyelesaian persoalan dan melahirkan gagasan-gagasan baru yang memajukan kehidupan. Misi Islam Berkemajuan termanifestasikan dalam gerakan pencerahan. Sebagai gerakan pencerahan, Muhammadiyah mempertegas langkah jihad kebangsaan dan pemberdayaannya.

Hal ini selaras dengan maksud identitas gerakan pencerahan (tanwir) yang tertuang dalam pernyataan satu abad Muhammadiyah (2010) bahwa “gerakan pencerahan yaitu praksis Islam yang berkemajuan untuk membebaskan, memberdayakan dan memajukan kehidupan”. Seperti saat Muhammadiyah dipimpin oleh Din Syamsudin, beliau mengajak masyarakat luas akan kesadaran yang selama ini tertutupi bahwa Sumber Daya Alam (SDA) Indonesia yang dikelola oleh ‘asing’ tidak memberikan kesejahteraan dan keadilan bagi rakyat Indonesia.

Proses inilah yang diharapkan supaya menyadarkan langkah dan upaya untuk menuju cahaya peradaban. Memberdayakan adalah prinsip yang diajarkan dalam islam yaitu tolong menolong dalam kebaikan seperti menghadirkan beberapa lembaga. Diantaranya Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM), Lembaga Amil Zakat Muhammadiyah (LAZISMU) dan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC). Memajukan berarti prinsip ‘futuristik’ dimana pesan semangat Al-Quran untuk tidak meninggalkan generasi dibelakang kita kaum yang lemah. Berarti Muhammadiyah mengusahakan suri tauladan dalam membangun peradaban bangsa. Prinsip diatas yang menjadikan Pemikiran Islam Berkemajuan juga merupakan Gerakan sosial Islam.

Muhammadiyah membentuk pola pondasi dalam memandang ‘Islam Berkemajuan’ yang agama menjadi kekuatan pendorong bagi kemajuan manusia, dalam karakteristik yaitu;

  1. Berlandaskan pada tauhid (Al-Mabni ‘ala Al-Tauhid) yakni keyakinan bahwa Allah adalah Tuhan yang Esa, dimana menciptakan serta memelihara alam semesta dan Allah yang patut disembah. Tauhid bermakna bahwa pembebasan dari paham kemusyrikan dan Tindakan umat Islam yang akan dipertanggungjawabkan kepada Zat yang Mahatinggi (Allah). Tauhid ditunjukkan dalam bentuk memperjuangkan untuk membebaskan manusia dari belenggu, serta pada saat yang sama menebarkan benih kebenaran dan kebaikan. Tauhid menghadirkan keikhlasan dalam melaksanakan dakwah amar makruf nahi munkar.
  2. Bersumber pada Al-Quran dan Al-Sunnah (Al-Ruju’ ila Al-Quran wa Al-Sunnah). Al-Quran adalah sumber pemahaman dan pengamalan Islam. Merupakan sumber keyakinan, pengetahuan, norma, hukum serta moral inspirasional sepanjang zaman. Sunnah merupakan sumber kedua yang berasal dari Rasul yang menggambarkan diri Nabi Muhammad sebagai teladan itu yang harus dicontoh. Dalam memahaminya diperlukan pemahaman tentang teks dan ilmu pengetahuan yang luas.
  3. Menghidupkan Ijtihad dan Tajdid (Ihya’ Al-Ijtihad wa Al-Tajdid). Mengerahkan pikiran (Ijtihad) adalah Upaya yang sungguh untuk memahami dan memaknai Al-Quran dan Al-Sunnah, yang dihidupkan melalui pemanfaatan akal murni, ilmu pengetahuan, dan teknologi yang melahirkan pemahaman agama yang sesuai dengan tujuan agama dan pemecahan problem yang dihadapi umat manusia. Tajdid merupakan pembaharuan baik dalam bentuk pemurnian mauppun dinamisasi dalan pemahaman dan pengamalan agama. Pemurnian serta dinamisasi menginisiasi dalam makna peningkatan, pengembangan, modernisasi dan yang semakna dengannya. Ini diperlukan supaya pemahaman agama selalu menghadapi tangtangan dan situasi masyarakat yang terus berubah.
  4. Mengembangkan Wasathiyah (tanmiyat Al-Wasathiyah). Umat Islam adalah Ummatan wasathan (Umat tengahan) menurut Al-Quran, dimana mengandung makna unggul dan tegak. Islam yang menolak ekstremisme dalam beragama dan sikap sosial baik dalam bentuk sikap berlebihan maupun sikap pengabaian. Wasathiyah juga bermakna posisi tengah antara ultra-konservatisme dan ultra-liberalisme dalam beragama. Menuntut keselaraasan seimbang antara kehidupan dan masyarakat, lahir dan batin serta duniawi dan ukhrawi.
  5. Mewujudkan Rahmat bagi seluruh Alam (Tahqiq Al-Rahmah lil Al-Alamin). Islam merupakan Rahmat bagi alam semesta. Karena itu, semua muslim berkewajiban untuk mewujudkan kerahmatan itu dalam kehidupan nyata. Di maraknya pertentangan dan permusuhan di dunia ini, islam dihadirkan sebagai pendorong umat dan peradaban.

Dengan Pemikiran Islam Progresif, Islam Berkemajuan Muhammadiyah berusaha memburai sikap yang membelenggu pemahaman Islam dalam satu pandangan sempit yang anti perubahan. Oleh karena itu, diperlukan usaha serta proses atas penanaman kesadaran yang penting dalam memahami islam sebagai agama yang senantiasa sesuai dalam memberikan kemaslahatan terhadap manusia dan zaman yang terus berubah dan semakin modern.

Dalam setiap zaman selalu ada orang atau kelompok yang menyerukan perbaikan bahkan pembaharuan dalam kehidupan umat Islam. Dalam menjalankan itu kita sebagai Muslim bahkan sebagai kader persyarikatan Muhammadiyah hadir untuk menjalankan misi dalam menggapai Cahaya peradaban. (Arm)